Makalah Sifat 20
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Telah kita ketahui bersama
bahwa Allah menciptakan makhluk ini untuk beribadah kepada-Nya, maka
ketahuilah bahwa jikalau hambanya tidak beribadah kepada Allah tidak ada kurang
dan rugi, tapi yang rugi hanya hamba yang tidak mau beribadah kepadanya.“Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”
(Adz-Dzariyaat1:56)
Ibadah tidak disebut
ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid (pengesaan) kepada sang khaliq.
Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci.
Bila ibadah dicampuri syirik tidak mau mentauhidkan sang pencipta, maka
rusaklah ibadah itu karena
batal keimanannya, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya najis.
Wajib hukumnya bagi setiap
muslim mukallaf (yang telah dewasa) laki-laki maupun perempuan, baik dari
golonhan awam, para hamba, maupun pelayan (pembantu) mengetahui terdapat
beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah, sifat-sifat wajib
bagi Allah, yang mustahil ataupun yang jaiz bagi Allah.
Seorang mukallaf
memiliki kewajiban individu (fardhu ‘ain) untuk mengenal akidah beserta
dalilnya secara global, baik dalil secara naqli maupun aqal karena sesungguhnya
kesempurnaan ilmu hanya milik Allah.
Yang dimaksud dengan
dalil global adalah dalil yang membutuhkan penafsiran dan pembuktian dari
keumumannya tersebut. Jika ada pertanyaan “apakah dalil yang membuktikan bahwa
Allah SWT itu ada (wujud)?”. Maka dijawab “alam ini”. Dengan dalil alam
tersebut seumpamanya kita paham tetapi tidak mengerti dari sudut pandang mana
alam tersebut bisa menjadi dalil. Maka dalil alam tersebut disebut dalil secara
global. Jika mengetahui bahwa alam bisa menjadi dalil adanya Allah karena
adanya alam karena sifat alam yang ada setelah ia tiada, yang membuktikan alam
tersebut di ciptakan oleh Allah yang artinya Allah ada sebelum segala sesuatu
ada, maka dalil ini adalah dalil terperinci, hukum mendatangkan dalil ini
adalah fardhu kifayah yang hanya diwajibkan kepada sebagian untuk membebaskan
hukum wajib bagi sebagian yang lain.
Penulisan
makalah ini insyaallah memberikan sedikit banyaknya pengetahuan tentang
sifat-sifat Allah beserta dalil-dalilnya baik secara naqli atau aqal.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah yang diuraikan diatas, maka rumusan masalah pemakalah adalah :
1.
Apa
pengertian dua puluh sifat wajib bagi Allah ?
2.
Bagaimana
telaah terhadap kitab kitab Kifayatul Awwam?
C. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui :
1.
Mengetahui
pengertian dua puluh sifat wajib bagi Allah
2.
Mengetahui
telaah terhadap kitab Kifayatul Awwam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sifat-Sifat
yang Wajib Bagi Allah
1.
Pengertian wujud, Dalil Wujud, dan Kesimpulan Dalil
Wujud
Sifat
wujud diperselisihkan maknanya, selain Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ariy dan para
‘Ulama yang mengikutinya mengatakan wujud adalah hal (keadaan) yang wajib
(pasti ada) bagi Dzat selama Dzat itu masih ada , keadaan ini tidak di ‘illati
dengan sebuah ‘illat (alasan/sebab).
Sedangkan Imam Abu
Al-Hasan Al-Asy’ariy dan para ulama yang mengikutinya mengatakan: Wujud (ada)
adalah Maujud (yang ada) itu sendiri , maka menurut pendapat ini wujud/adanya
Allah adalah dzat Allah , bukan lebih dari dzat dilihat dari luar , wujudnya
makhluk adalah dzat makhluk itu sendiri.
Berdasarkan ini,
tidaklah jelas menganggap wujud itu sebagai sifat karena wujud itu adalah dzat
itu sendiri sedangkan sifat adalah selain dzat. Lain halnyaatas pendapat yang
pertama. Maka sesungguhnya menjadikan wujud itu sebagai sifat adalah jelas.
Dan makna wajibnya
wujud bagi Allah berdasarkan pendapat yang pertama adalah bahwa sifat nafsiyyah
yang dia itu berupa hal adalah tetap bagi Allah. Dan maknanya berdasarkan
pendapat yang kedua adalah bahwa dzat Allah itu maujud serta tahqiq (
dapat dipastikan dengan dalil ) diluar sekiranya kalau disingkapkan hijab untuk
kita niscaya kita dapat melihatnya.
Maka
dzat Allah itu adalah tahqiq (
berdasarkan dari dua pendapat tersebut ). Akan tetapi wujud adalah selain dzat
menurut pendapat yang pertama dan dzat ituadalah wujud menurut pendapat yang
kedua.
Wujud
juga dikelompokkan dalam kelompok sifat yang Nafsiyyah, artinya :
1.
Setiap hal yang berdiri dengan zat dalam keadaan
tidak disebabkan dengan satu sebab
2.
Sesuatu zat tidak bisa difahami dengan tanpa dia
Dalil
atas wujudnya Allah adalah baharunya alam ini yakni wujudnya sesudah ‘adam atau
adanya sesudah tidak ada. Dan alam adalah Ajrom
( jama’ dari jirmun ) seperti
dzat-dzat dan ‘Arodh ( jama’ dari ‘arodhun ) seperti gerakan, diam dan
warna-warna.
Wujud
adalah sifat nafsiyyah yakni sifat yang berhubungan dengan diri atau zat.
Sebabnya karena diri atau zat baru dapat dimengerti dengan sifat tersebut. Maka
tidaklah dimengerti akan satu zat kecuali dengan wujudnya. Defenisi ulama tentang
sifat nafsiyyah adalah sifat yang tetap, yang penyifatan dengannya menunjuk
terhadap zat itu sendiri tanpa ada makna yang lebih atasnya.[1]
Pengertian
‘Arodh secara hakekat adalah sesuatu yang berdiri dengan selainnya berupa sifat-sifat
yang baru. Adapun pengertian ‘arodh
dengan tamsil adalah seperti yang terdapat dalam ibarat yakni bergerak, diam
dan warna-warna, dimana semua ini adalah sifat-sifat yang baru yang harus
berdiri dengan selainnya ( yakni dzat ).
Hanya
saja baharunya alam ini sebagai dalil atas wujudnya Allah karena tidaklah sah
bahwa alam ini baharu dengan sendirinya, dengan tanpa ( penjadi yang
menjadikannya ), karena alam ini sebelum wujudnya, adalah wujudnya itu sama
dengan ‘adamnya (ketiadaannya). Maka tatkala didapatkan alam ini dan telah
lenyap ‘adamnya tahulah kita bahwa wujudnya menjadi lebih unggul atas ‘adamnya,
sedangkan dahulu wujud itu adalah sama bagi ‘adam, maka tidaklah sah bahwa
wujudnya tersebut menjadi lebih unggul atas ‘adam dengan sendirinya. [2]
2.
Pengertian Qidam, Dalil Qidam, dan
kesimpulan dalil Qidam
Sifat
kedua yang wajib bagi Allah adalah Qidam dan maknanya adalah tidak
berpermulaan. Makna keadaan Allah itu Qodim adalah tidak ada permulaan bagi
wujud-Nya. Lain halnya dengan si Zaid umpamanya, maka wujudnya itu memiliki
permulaan yaitu penciptaan nutfah
(setetes air) yang dia diciptakan darinya.
Dalil
atas Qidamnya Allah adalah sesungguhnya Dia jika tidak Qodim maka dia itu hadits karena tidak ada perantara
(sesuatu yang ditengah-tengah) antara Qodim dan hadits. Maka setiap sesuatu yang tidak ada Qidam padanya, tetaplah
baginya baharu. Dan jika Allah itu hadits
niscaya Dia membutuhkan kepada Muhdits
yang menjadikan-Nya baharu dan MuhditsNya pun membutuhkan kepada Muhdits yang lain
dan begitu seterusnya.
Maka
jika tidak berhenti-henti Muhdits-muhdits itu, lazimlah tasalsul yakni
berturut-turutnya segala sesuatu secara satu persatu kepada apa-apa yang tidak
ada penghabisannya dan tasalsul itu adalah mustahil.
Daur
itu bisa terjadi dengan hanya satu wasitoh (perantara) kalau muhditsnya hanya
dua atau lebih dari satu wasitoh dengan sebab muhditsnya lebih dari dua.
Maka
kesimpulan dalil itu adalah bahwa anda berkata : Kalau Allah itu tidak Qadim
dalam arti dia baharu ( hadits)
niscaya dia membutuhkan kepada Muhdits. Maka lazimlah daur dan tasalsul dan
keduanya adalah mustahil. Maka jadilah baharunya Allah itu mustahil maka
tetaplah qidamnya dan dialah yang dituntut[3]
3.
Pengertian Baqo’, Dalil Baqo’, dan
Kesimpulan Dalil Baqo’
Sifat
ketiga yang wajib bagi Allah adalah Baqo’ dan maknanya adalah tidak ada akhir
bagi wujud. Makna keadaan Allah itu Baqo ( kekal) adalah bahwa Dia tidak ada
akhir bagi wujud-Nya.
Dalil
atas Baqo’-Nya Allah adalah bahwa kalau boleh Allah itu dihubungi oleh
ketiadaan (‘Adam) niscaya jadilah Dia
baharu (hadits) maka dia membutuhkan
kepada Muhdits dan lazimlah Daur dan Tasalsul. Dan telah terdahulu defenisi masing-masing dari keduanya
pada dalil Qidam.
Penjelasannya
adalah bahwa sesuatu yang boleh atasnya ‘adam
maka tidak ada padanya Qidam karena setiap dzat yang bisa dihubungi ‘adam
jadilah wujudnya jaiz dan setiap yang jaiz wujud adalah hadits dan setiap yang
hadits membutuhkan kepada Muhdits. Dan Allah telah tetap bagi-Nya Qidam dengan
dalil yang terdaulu dan setiap sesuatu yang telah tetap baginya Qidam niscaya
mustahil atas-Nya ‘adam. Maka dalil Baqo’ bagi Allah adalah dalil Qidam.
Kesimpulan
dalil Baqo’ adalah bahwa anda berkata: Kalau tidak wajib bagi Allah itu Baqo’
dalam arti boleh atas-Nya ‘adam niscaya tidak ada pada-Nya Qidam, sedangkan
qidam itu sah dihilangkan dari Allah karena dalil yang terdahulu. Dan inilah
dalil ijmali bagi baqo’ yang wajib atas setiap orang untuk mengetahuinya. [4]
4.
Pengertian Mukholafah Lil
Hawadits, Dalil, dan Kesimpulan Dalil Muholafah Lil Hawadits.
Sifat
keempat yang wajib bagi Allah adalah berbeda dengan segala yang baharu yakni
para makhluk ini.
Maka
Allah itu berbeda dengan tiap-tiap makhluk dari golongan manusia, jin,
malaikat, dan yang lainnya ( seperti benda-benda beku dan hewan-hewan yang
lain). Maka tidak sah Allah bersifat
dengan sifat-sifat segala yang baharu seperti berjalan, duduk dan mempunyai
anggota-anggota tubuh. Maka Allah itu suci daripada anggota-anggota tubuh
berupa mulut, mata, telinga dan yang lainnya (seperti tangan dan kaki)
Dalil
atas wajibnya Mukholafah Lil Hawadits bagi Allah adalah kalau ada sesuatu dari
segala yang baharu ini menyerupai Allah, artinya jika Allah itu seandainya
diwajibkan Dia bersifat dengan sesuatu daripada sifat-sifat yang baharu niscaya
Dia itu baharu. Dan jika Allah itu baharu niscaya Dia membutuhkan kepada
Muhdits dan MuhditsNya itu membutuhkan lagi kepada muhdits begitu seterusnya.
Dan lazimlah Daur dan tasalsul dan masing-masing dari keduanya adalah mustahil.
Kesimpulan
dalil Mukholafah Lil Hawadits adalah bahwa anda berkata : Kalau Allah itu
menyerupai akan yang baharu dari segala yang baharu dalam hal sesuatu niscaya
Dia itu baharu sebagaimana dia, karena apa-apa yang boleh (tetapnya) atas salah
satu dari dua yang semisal maka boleh pula tetapnya atas yang lain. Sedangkan
baharunya Allah itu adalah mustahil karena Allah wajib bagi-Nya qidam. Dan jika
tidak ada bagi Allah itu sifat baharu niscaya tetaplah mukholafahnya Allah bagi
segala yang baharu. Maka antara Allah dan segala yang baharu tidak ada
keserupaan dalam hal sesuatu secara qoth’i
( pasti ). Dan inilah dia dalil ijmali yang wajib mengetahuinya sebagaimana
telah terdahulu (keterangannya).[5]
5.
Pengertian Al-Qiyamu Binnafsi, Dalil, serta Kesimpulan Dalil Al-QiyamuBinnafsi
Sifat
kelima yang wajib bagi Allah adalah berdiri sendiri yakni dengan dzat-Nya
sendiri. Dan maknanya adalah kaya daripada Mahal
dan Mukhossish. Mahal adalah dzat dan Mukhossish
adalah Mujid (yang menjadikan)
Makna
keadaan Allah itu berdiri dengan sendiri-Nya adalah bahwa Allah kaya terhadap
dzat yang dia berdiri dengannya ( selain dzat-Nya sendiri ) dan kaya terhadap
Mujid karena Allah Dialah yang menjadikan sesuatu.
Dalil
bahwa Allah bersifat Qoimun Binnafsih adalah bahwa anda berkata : Kalau Allah
itu membeutuhkan kepada Mahal yakni dzat yang Dia berdiri dengannya sebagaimana
warna putih membutuhkan kepada dzat yang dia berdiri denganya niscaya Allah itu
bersifat sebagaimana warna putih itu umpamanya adalah sifat. Dan Allah itu
tidak sah untuk menjadi sifat karena Dia Allah bersifat dengan beberapa sifat
sedangkan sifat itu tidaklah bersifat dengan beberapa sifat. Maka Allah itu
bukan sifat.
Dan
kalau Allah itu membutuhkan kepada Mujid yang akan menjadikan-Nya niscaya Dia
itu baharu danb Muhditsnya pun adalah baharu juga dan lazimlah daur dan
tasalsus. Maka tetaplah bahwa Allah itu kaya dengan kekayaan mutlak yakni kaya
dari segala sesuatu. Adapun kekayaan makhluk itu maka dia adalah kekayaan muqayyad (terikat) yakni kaya dari
sesuatu tanpa kaya dari sesuatu yang lainnya.[6]
Lawan
dari sifat ini, bahwa Allah membutuhkan tempat dan ketentuan. Dalilnya,
andaikata Allah membutuhkan tempat, maka tentu Allah memiliki sifat yang sama
dengan makhluknya. Sebab zat Allah tidak membutuhkan yang lain untuk ditempati.[7]
6.
Pengertian Wahdaniiyah, Dalil,
serta Kesimpulan Dalil Wahdaniyyah.
Sifat
keenam yang wajib bagi llah adalah Wahdaniyyah (Esa) pada zat, sifat dan
perbuatan dalam arti tidak berbilang.
Makna
keadaan Allah itu Esa pada dzat-Nya adalah bahwa dzat Allah itu tidak tersusun
dari bagian-bagian (ajza’) dan tarkib atau susunan itu dinamakan dengan Kam Muttashil. Dan juga dengan makna
bahwa tidak ada dzat pada yang maujud ini, tidak pula yang mumkin yang
menyerupai akan dzatNya Allah dan keserupaan yang mustahil ini dinamakan dengan
Kam Munfashil. Maka wahdaniyyah pada
dzat menghilangkan dua kam yakni yang muttasil pada dzat dan yang munfasil pada
dzat.
Dan
makna keesaan Allah pada sifat adalah bahwa Allah itu tidak memiliki dua sifat
yang bersesuaian pada nama dan makna seperti dua qudrat, dua ilmu, dan dua
irodat. Maka tidaklah ada bagi Allah kecuali satu qudrat, satu irodat dan satu
ilmu. Berbeda halnya dengan Abu Sahal yang berkata bahwa Allah itu memiliki
beberapa ilmu sebanyak bilangan yang diketahui. Dan ini yakni berbilang pada
sifat dinamakan dengan Kam Muttashil
pada sifat. Dan berarti juga bahwa tidak ada seseorang yang memiliki sifat yang
menyerupai satu sifat dari sifat-sifatnya Allah. Dan ini yakni adanya seseorang
yang memiliki sifat hingga akhirnya. Yakni yang menyerupai akan satu sifat dari
sifat-sifatnya Allah. Dinamakan dengan Kam
Munfashil pada sifat. Maka Esa pada sifat itu menghapus akan Kam Muttashil dan Kam Munfashil.
Dan
makna keesaan Allah pada Af’al (perbuatan)adalah bahwa tidak ada seseorangpun
diantara semua makhluk ini yang memiliki satu perbuatan, karena Allah yang
menciptakan perbuatan-perbuatan semua mahkluk dari pada Nabi, para Malaikat dan
yang lainnya. Keadaan selain Allah ada yang memiliki perbuatan dinamakan Kam Munfashil pada af’al.
Dalil
wajibnya Wahdaniyyah bagi Allah adanya adanya alam ini. Maka wujudnya alam ini
adalah dalil atas Wahdaniyyahnya Allah dan atas ketiadaan sekutu bagi-Nya dalam satu perbuatan diantara beberapa
perbuatan dan atas ketiadaan perantara bagi-Nya dalam hal perbuatan.[8]
Sifat
Qidam, baqo’ mukholafatuhu lilhadawitsi, alqiyamu binnafsihi, dan alwahdaniyyah
adalah sifat-sifat salbiyah yakni sifat-sifat yang maknanya adalah peniadaan
karena masing-masing dari sifat-sifat tersebut meniadakan Allah ‘Azza wajalla
apa-apa yang tidak pantas dengannya.
Sifat
salbiyyah adalah sifat yang menunjuk kepada penafian sesuatu yang tidak layak
bagi Allah.[9]
Sifat
salbiyyah adalah sifat yang meniadakan segala segala sesuatu yang tidak layak
bagi kesempurnaan Allah[10]
7.
Pengertian Sifat Qudrat bagi
Allah.
Sifat
yang ketujuh yang wajib bagi Allah adalah qudrat dan dia adalah sifat yang
memberi bekas pada yang mungkin akan wujud atau ‘adam.
Pemberian
bekas kepada qudrat adalah majaz aqli dengan hubungan sababiyah yakni
penyandaran kepada sebab adanya perbuatan dimana pemberian bekas dengan wujud
atau ‘adam kepada yang mungkin barulah bisa dengan adanya qudrat. Adapun
qorinahnya adalah kemustahilan dari pemberian bekas kepada qudrat secara
hakikat karena qudrat itu tidak bisa melakukan ta’tsir (bekas) kecuali dengan
kudrat juga sehingga lazimlah terjadi berdirinya qudrat dengan qudrat dan ini
adalah bathil karena menimbulkan berdirinya makna dengan makna.
Bagi
Qudrat ada tujuh ta’alluq :
1. Ta’alluqi suluhi qodim
2. Ta’alluq Qobdhoh yaitu ta’alluqnya qudrat
dengan kita sebelum Allah menghendaki wujud kita
3. Ta’aaluq dengan perbuatan
yakni penjadian Allah akan sesuatu dengannya
4.
Ta’alluq Qobdhoh yakni ta’alluqnya
qudrat dengan sesuatu sesudah wujudnya dan sebelum Allah menghendaki akan
‘adamnya
5.
Ta’alluq dengan perbuatan
yakni peniadaan Allah akan sesuatu dengannya
6.
Ta’alluq Qobdhoh sesudah ‘adamnya
dan sebelum dibangkitkan
7.
Ta’alluq dengan perbuatan
yakni penjadian Allah bagi kita pada hari kebangkitan
Tiga ta’alluq qobliah (kebergantungan yang
ada dalam genggaman Allah), yaitu:
1.
Ta’alluqnya sifat qudrat dengan berlangsungnya
perkara yang mungkin tetap tidak ada atau pada saat ada kemungkinan untuk wujud
sebelum wujudnya.
2.
Ta’alluqnya sifat qudrat dengan berlangsungnya wujud
yang mungkin, setelah tidak adanya
3.
Ta’alluqnya sifat qudrat dengan berlangsungnya
kemungkinan tidak berwujud setelah wujudnya. Artinya, kemungkinan itu ada
kemudia tidak ada[11]
Ta’alluq artinya adalah tuntutan sifat atas perkara
yang lebih atas berdirinya dengan dzat.[12]
Pengertian
ta’alluq (hubungan) Al-Ilmu dengan zat Allah ialah, bahwa sesungguhnya dzat dan
sifat Allah itu qadim, pasti adanya, tidak pernah tidak ada, dan tidak akan
pernah tidak ada. Sesungguhnya, Dia mengetahui dzat-Nya, tidak ditempat manapun
dan tidak dilalui masa. Dengan mengetahui, sesungguhnya qudrat (kekuasaan)-Nya
luas dan menyeluruh tanpa batas.[13]
8.
Pengertian Sifat Irodah bagi Allah
Menurut bahasa, irodah berarti semata-mata menghendaki atau memaksudkan.
Sedangkan menurut istilah ialah sifat yang qodim yang lebih atas dzat, yang
berdiri dengannya, yang mengkhususkan perkara mumkin dengan sebagian apa yang
jaiz atasnya.
Bagi Irodah itu ada dua
ta’alluq:Ta’alluq suluhi qodim yakni kepatutan irodah untuk mengkhususkan
sesuatu pada zaman azali dengan sebagian dari apa-apa yang boleh atasnya
seperti wujud, ‘adam, putih, hitam, dan lain-lain dengan dihubungkan kepada si
zaid umpamanya.
Ta’alluq tanjizi qodim yakni bermaksudnya Allah pada zaman azali pada
keadaan yang mana si mungkin berada atasnya pada apa-apa yang sudah ditetapkan
berupa wujud, ‘adam, putih hitam dan lain-lain
atau pengkhususan Allah pada zaman azali terhadap barang yan g mungkin
dengan salah satu dari dua perkara sebagai ganti dari yang lainnya. Kemudian
sesuai dengan tanjizi qodim ini datanglah tanjizi hadits.
Ta’alluq tanjizi hadits yakni terbitnya barang yang mungkin itu dari
irodah dengan perbuatan atau pengkhususan irodah itu akan salah satu dari dua
perkara secara tertentu yang akan mengiringi bagi ta’alluqqudrat yang tanjizi.
Hubungan antara suluhi qodim, dan tanjizi qodim serta tanjizi hadits
adalah keumuman dan kekhususan mutlak.
Perlu diketahui bahwa irodah menurut Ahlussunnah adalah lain daripada
perintah (Amar), maka terkadang :
1.
Allah menghendaki dan memerintah seperti imannya
orang yang telah dketahui Allah perihal imannya seoerti Abu bakar
2.
Allah menghendaki dan tidak memerintah seperti
kafirnya orang yang telah diketahui Allah perihal ketiadaan imannya seperti
Fir’aun, Haaman dan Qarun dan seperti maksiat-maksiat yang terjadi dialam ini.
Maka semua itu terjadi dengan irodah Allah.[14]
9. Pengertian Sifat Ilmu bagi Allah
Sifat kesembilan yang wajib bagi Allah adalah Ilmu dan dia adalah sifat
qadim yang berdiri dengan dzat Allah lagi maujud, yang tersingkap dengannya
barang yang maklum dengan sebenar-benarnya atas jalan yang meliputi dengan
tanpa didahului oleh kesamaran.
Ta’alluq sifat ilmu itu dengan segala perkara yang wajib, segala perkara
yang jaiz, dan segala perkara yang mustahil. Maka Dia mengetahui akan zatnya
yang Maha Tinggi dan beberapa sifat-Nya dengan ilmuNya dan Dia mengetahui
bebrapa perkara yang maujud seluruhnya dan beberapa perkara yang ma’dum
seluruhnya dengan ilmu-Nya, serta Dia mengetahui beberapa perkara yang mustahil
dengan makna bahwa Dia mengetahui bahwa sekutu itu musthil atas Allah dan dia
mengetahui bahwasanya sekutu itu kalau dia didapatkan niscaya berakibat
kerusakan atas-Nya. Naha Suci Allah daripada sekutu dan Maha Tinggi Dia dengan
ketinggain yang besar.
Bagi ilmu hanya ta’alluq tanjizi qodim saja. Maka Allah mengetahui akan
segala yang tersebut ini pada zaman azali dengan pengetahuan yang sempurna.
Bukan atas jalan dzon (perkiraan) dan syak (keraguan) karena dzon dan syak itu
keduanya mustahil atas Allah.[15]
10.
Pengertian Sifat Hayat bagi Allah
Sifat kesepuluh yang wajib bagi Allah adalah Hayat (hidup) dan dia adalah
satu sifat yang mensyahihkan bagi orang yang dia (Hayat itu) berdiri denganya
akan idrok (pencapaian) seperti ilmu, sama’, dan bashor dalam arti dia syah
untuk bersifat dengan yang demikian itu.
Maksudnya Hayat itu adalah satu sifat yang apabila dia berada pada
seseorang maka pantaslah orang itu untuk bersifat dengan idrok seperti
mengetahui, mendengar dan melihat. Dan tidak lazim dari hayat itu besifat
dengan idrok tersebut dengan perbuatan. Dan dia (hayat) itu tidak ta’alluq
dengan sesuatu baik yang maujud ataupun yang ma’dum. Sebab dari tidak
ta’alluqnya sifat hayat itu dengan semua itu adalah karena hayat itu tidak
menuntut perkara yang lebih atas berdirinya dengan zatnya melainkan dia adalah
satu sifat yang membenarkan atau membolehkan orang yang dia tempati untuk
bersifat dengan idrok sehingga orang yang dia tempati itu menjadi orang yang
mengetahui, orang yang mendengar dan orang yang melihat.
Dalil atas wajibnya Qudrat, Irodat, Ilmu dan Hayat adalah wujudnya
sekalian makhluk ini karena kalau terhapus sesuatu dari yang empat ini, niscaya
tidak didapatkan satu mahklukpun. Maka tatkala didapatkan sekalian makhluk ini
tahulah kita bahwa Allah bersifat dengan sifat-sifat ini.[16]
11.
Sifat yang Kesebelas dan Keduabelas Bagi
Allah.
والثَانِيَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِه الٍّسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَهُماَ صِفَتاَنِ
قاَئِمَتاَنِ بِكُلِّ مَوْجُوْدٍ اَيْ الصّفةُ الحاديةَ عشرة
يَنْكَشِفُ بِهِماَ كُلُّ مَوْجُوْدٍ واَجِباً
كاَنَ اَوْ جاَئِزاً
Sifat yang ke – 11 dan ke – 12 dari sifat –
sifat Allah Ta’ala adalah Sama’ dan Bashor yakni dua sifat yang
terdiri keduanya dengan setiap yang maujud dalam arti tersingkap dengan
keduanya itu setiap yang maujud baik yang wajib maupun yang jaiz.
فَالسَّمْعُ
وَالْبَصَرُ يَتَعَلَّقاَنِ بِذاَتِهِ تَعاَلَى وَصِفاَتِهِ اَيْ اَنَّ ذاَتَهُ
تَعاَلَى وَصِفاَتِهِ مُنِكَشِفَةٌ لَهُ تَعاَلَى بِسَمْعِهِ
وَبَصَرِهِ زِياَدَةً عَلَى الْاِنْكِشاَفِ
بِعِلْمِهِ
“Maka Sama’ dan Bashor
keduanya talluq dengan zat Allah Ta’ala dan sifat-sifatnya dalam arti bahwa zat
Allah dan sifat – sifatnya tersingkap bagi Allah dengan pendengaran dan
penglihatannya sebagai tambahan atas ketersingkapan dengan ilmuNya”.
وَزَيْدٌ وَعُمَرُ
وَالْحاَئِطُ يَسْمَعُ اللهُ تَعاَلَى ذَواَتَهاَ وَيُبْصِرُهاَ وَيَسْمَعُ صَوْتَ
صاَحِبِ الصَّوْتِ وَيُبْصِرُهُ
اَى الصَّوْتَ
Dan Zaed, Amar
serta tembok,Allah mendengar akan dzat – dzatnya dan melihatnya. Dan Allah
mendengar suara orang yang punya suara serta melihatnya yakni suara itu.[17]
Artinya Sama’ dan BashorNya Allah itu bersifat Inkisyaf
( tersingkap ).Tidak ada yang tidak bisa di dengar atau di lihat olehnya bahkan
Sama’ dan BashorNya Allah itu bisa melihat dzat dan sifat seperti
di contohkan oleh Mushonnif antara Zaed,Umar dan tembok.Kalau zaed
dan umar di batasi oleh tembok maka terbataslah pendengaran dan
penglihatannya.Berbeda dengan Allah yang tidak ada batas baginya.Allah dapat
mendengar dan melihat dzat yang berbicara dan mendengar dan juga Allah dapat
melihat wujud dari pendengaran dan penglihatan itu.
13. Sifat
Ketiga Belas Yang Wajib Bagi Allah Ta’ala
اَلصِّفَةُ
الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِهِ تَعاَلَى الْكَلاَمُ وَهِيَ صِفَةٌ
قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذاَتِهِ تَعَالَى لَيْسَتْ بِحَرْفٍ
وَلاَ صَوْتٍ مُنَزَّهَةٌ عَنِ التَّقَدُّمِ
وَالتَّاَخُّرِ وَالْاِعْراَبِ وَالْبِناَءِ بِخِلاَفِ كَلاَمِ الْحَواَدِثِ.
Sifat ke – 13 dari
sifat – sifat Allah Ta’ala adalah Kalam. Dan dia adalah sifat yang qodim yang berdiri dengan dzat Allah Ta’ala tidak dengan huruf
dan tidak pula dengan suara,disucikan dari pada terdahulu dan terkemudian serta
dari i’rob dan bina’.Berlawanan dengan segala kalam yang baharu.[18]
Wajib bagi Allah
mempunyai sifat Kalam ( maha berbicara ). Sifat ini merupakan sifat
terdahulu yang ada pada dzat Allah dan sifat ini tidak berupa huruf atau
suara.Sifat ini bersih serta tidak berada pada di depan atau belakang
sesuatu,juga bersih dari i’rab dan bina’(menurut istilah ilmu
nahwu dan sharaf) serta bersih pula dari diam dalam hati.Misalnya Allah
menyembunyikan kalam di dalam dzatnya,dimana dia sendiri yang berkuasa
mengucapkannya.[19]
وَدَلِيْلُ وُجُوْبِ
الْكَلاَمِ لَهُ تَعاَلَى قَوْلُهُ تَعَالَى وَكَلَّمَ الَّلهُ مُوْسَى
تَكْلِيْماً فَقَدْ اَثْبَتَ لِنَفْسِهِ
كَلاَما
Dan dalil wajibnya
kalam bagi Allah Ta’ala adalah firman Allah “ dan Allah telah berbicara pada Musa
dengan sebenar – benar pembicaraan” maka tetaplah kalam bagi dirinya.[20]
فَاِنْ قِيْلَ اِذاَ كاَنَ كَلاَمُهُ تَعاَلَى لَيْسَ
بِحَرْفٍ وَلاَ صَوْتٍ فَكَيْفَ يُفْهَمُ اَنَّ سَيِّدَناَ مُوْسَى عَلَيْهِ
الصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ فَهِمَهُ لَمَّا ناَجاَهُ عَلىَ
جَبَلِ طُوْرِ سَيْناَءَ وَكَذاَ نَبِيُّناَ صَلَّى الَّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لّمَّا خاَطَبَهُ اللهُ لَيْلَةَ
الْاِسْراَءِ . فاَلْجَواَبُ اَنَّ اللهَ
تَعاَلَى اِذاَ اَراَدَ اَنْ يُفْهِمَ كَلاَمَهُ لِاَحَدٍ اَلْقَى فِى قَلْبِهِ
مَعْناَهُ وَكَلاَمُهُ تَعاَلَى
الْقَدِيْمُ يُسْمَعُ مِنْ جَمِيْعِ الْجِهاَتِ
Jika dikatakan, jika
kalam Allah itu tidak berupa huruf atau tidak berupa suara,maka bagaimana
mungkin bisa dimengerti,padahal Nabi Musa as. Dapat memahami ketika
ketika beliau bermunajat dibukit Thur Shina, begitu pula ketika nabi
Muhammad diajak berbicara pada malam Isro’?Jawabannya adalah : jika
Allah swt hendak memahamkan kepada salah seorang hambaNya tentang kalamNya,
maka dia meletakkan makna kalam itu di dalam hati orang tersebut.Kalam Allah
itu dapat di dengar dari semua penjuru.[21]
Menurut Ahlussunnah, Al – Qur’an mempunyai dua
makna :
1.
Kalam Nafsi yang di ta’rifkan
dengan: “Sifat yang azali yang berdiri dengan zat Allah swt. Bukan dengan
huruf, bukan pula dengan suara, yang di sucikan dari terdahulu dan terkemudian
serta dari i’rab dan bina’”. Kalam nafsi ini biasa disebut dengan Kalamullah.
2.
Kalam Lafzi yaitu Al- Qur’an yang
kita baca setiap hari.[22]
14. Sifat Keempat Belas Kaunuhu
Qodiron
اَلصِّفَةُ الَّابِعَةَ
عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِهِ الْواَجِبَةِ لَهُ تَعاَلَى كَوْنُهُ قاَدِراً وَهِيَ
صِفَةُ قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ تَعاَلَى غَيْرَ
مَوْجُوْدَةٍ وَغَيْرَ مَعْدُوْمَةٍ
Sifat ke – 14 dari
sifat – sifat yang wajib bagi Allah Ta’ala adalah Kaunuhu Qodiron (
keadaannya berkuasa ) dan dia adalah sifat yang berdiri dengan dzat Allah
Ta’ala dalam keadaan tidak maujud dan tidak ma’dum”.
وَهِيَ غَيْرُ
الْقُدْرَةِ وَبَيْنَهاَ وَبَيْنَ الْقُدْرَةِ تَلاَزُمٌ فَمَتَى وُجِدَتِ
الْقُدْرَةُ فِيْ ذاَتٍ وُجِدَ فِيْهاَ الصِّفَةُ الْمُسَمَّاةُ
بِلْكَوْنِ قاَدِراً
سَواَءٌ كاَنَتِ الذّاَتُ قَدِيْمَةً اَوْ حَدِيْثَة
Dan dia (sifat
Kaunuhu Qodiron )itu adalah lain dari qudrat dan diantara Kaunuhu
Qodiron dan qudrot ada Talazzum
( saling melazimi ) . Maka ketika di dapatkan qudrot pada satu dzat niscaya
di dapatkan padanya sifat yang diberi nama dengan Kaunuhu Qodiron, baik
dzat itu qodim atau hadis .[23]
Wajib bagi Allah mempunyai sifat Qodiron,
artinya Allah maha kuasa. Keadaan tersebut merupakan sifat yang menetap pada
diri Allah ( sifat ) dan terdapat pada dzat serta selalu menetap pada qudrot
.Yang dimaksud dengan “Allah Maha Kuasa” adalah sifat qudrot yang selalu
menetap pada dzat Allah dan tidak ada sifat yang lain yang melebihi ketetapan
sifat tersebut ( qudrot pada dzat yang berada diluar angan – angan ).[24]
Dalil bahwa Allah swt. Itu memiliki sifat
wajib Kaunuhu Qodiron adalah sama dengan dalil sifat Al- Qudrat .
Apabila Allah pasti memiliki sifat Kaunuhu Qodiron, maka mustahil dia
bersifat A’jizam yaitu lawan Kaunuhu Qodiron.[25]
15. Sifat Yang Kelima Belas : Kaunuhu Muriidan.
اَلصِّفَةُ
الْخاَمِسَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِهِ الْواَجِبَةِ لَهُ تَعاَلَى كَوْنُهُ
مُرِيْداً وَهِيَ قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ
تَعاَلَى غَيْرَ مَوْجُوْدَةٍ
وَغَيْرَ مَعْدُوْمَةٍ
وَتُسَمَّى حاَلاً
Sifat ke – 15 dari
sifat – sifat yang wajib bagi Allah Ta’ala adalah Kaunuhu Muriidan (
keadaannya berkehendak ) dan dia adalah sifat yang berdiri dengan dzat Allah
Ta’ala dalam keadaan tidak maujud dan tidak ma’dum dan dia
dinamakan Hal ( yakni hal Maknawiyyah )”.
وَهِيَ غَيْرُ
الَاِراَدَةِ سَواَءٌ كاَنَتِ الذَّاتُ قَدِيْمَةً اَوْ حَدِيْثَةٍ فَذاَتُ زَيْدٍ
خَلَقَ اللهُ تَعاَلَى فِيْهاَ الْاِراَدَةَ لِلْفِعْلِ
وَخَلَقَ فِيْهاَ صِفَةً تُسَمَّى كَوْنَ زَيْدٍ
مُرِيْداً
Dan dia ( sifat
Kaunuhu Muriidan ) adalah lain dari irodat baik dzat itu qodim ataupun
baharu. Maka dzat Zaed, Allah Ta’ala menciptakan padanya irodah atau
kehendak untuk berbuat dan menciptakan pula padanya satu sifat yang diberi nama
dengan “keadaan si Zaed berkehendak”.[26]
وَالدَّلِيْلُ عَلَى
ثُبُوْتُ كَوْنِهِ تَعاَلَى مُرِيْداً هُوَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْاِراَدَةِ
وَاِذاَ ثَبَتَ لَهُ كَوْنُهُ مُرِيْداً اِسْتَحاَلَ عَلَيْهِ
كَوْنُهُ مُكْرَهاً الَّذِيْ هُوَ ضِدُّ
كَوْنِهِ تَعاَلَى مُرِيْداً
Dan dalil bahwa Allah
swt. Itu pasti memiliki sifat Kaunuhu Muriidan
( keberadaanNya maha berkehendak ), ialah sama dengan dalil sifat
Al-irodah. Apabila Allah telah pasti memiliki sifat Kaunuhu Muriidan, maka
mustahil dia bersifat Kaunuhu Mukrohan ( keberadaanNya di paksa ), lawan sifat
Kanuhu Muriidan.[27]
Apabila Allah
terpaksa, maka berarti Allah tidak mempunyai kehendak.Sedangkan dalil atau
alasan atas tetapnya Allah Ta’ala memiliki sifat maha berkehendak adalah dalil
dari sifat irodat.
16. Sifat Keenam Belas : Kaunuhu ‘Aliman
اَلصِّفَةُ
الْسَّادِسَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِهِ
تَعاَلَى كَوْنُهُ تَعاَلَى عاَلِماً
وَهِيَ صِفَةٌ قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ تَعاَلَى غَيْرَ
مَوْجُوْدَةٍ وَلاَ مَعْدُوْمَةٍ وَهِيَ غَيْرُ
الْعِلْمِ
Sifat ke 16 dari sifat
– sifat Allah Ta’ala adalah Kaunuhu
‘Aliman ( keadaan Allah ‘alim atau berilmu ) dan dia adalah dzat yang
berdiri dengan dzat Allah dalam keadaan tidak maujud dan tidak pula ma’dum dan
dia adalah lain dari ilmu”.
وَيَجْرِيْ هَذاَ فِي
الْحاَدِثِ وَمِثاَلُهُ ماَ تَقَدَّمَ
Dan berlaku pula ini
pada yang baharu dan mitsalnya adalah apa – apa yang telah terdahulu.
Maksudnya : pada yang
baharu juga dikatakan bahwa keadaannya berilmu lain dari pada sifat ilmu.
Mitsal dari apa – apa yang telah terdahulu itu adalah bahwa dikatakan : Dzat si
Zaed,Allah menciptakan padanya ilmu dan menciptakan pula akan keadannya
berilmu.[28]
وَالدَّلِيْلُ
عَلَيْهاَ هُوَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْعِلْمِ وَاِذاَ ثَبَتَ لَهُ تَعَالَى
كَوْنُهُ عاَلِماً اِسْتَحاَلَ عَلَيْهِ كَوْنُهُ جاَهِلاً الَّذيْ
هُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ عاَلِماً
Dalil bahwa Allah swt.
Itu memiliki sifat Kaunuhu ‘Aliman ( keberadannya maha mengetahui ) itu
sama dengan dalil sifat Al-ilmu. Apabila Allah sudah pasti memiliki sifat Kaunuhu ‘Aliman,maka
mustahil Dia memiliki sifat Kaunuhu Jahilan ( keberadanNya bodoh), lawan
sifat Kaunuhu ‘Aliman.[29]
17.
Sifat Ketujuh Belas : Kaunuhu Hayyan
اَلصِّفَةُ
الْسَّابِعَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِهِ
تَعاَلَى كَوْنُهُ تَعاَلَى حَيّاً
وَهِيَ صِفَةٌ قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ
تَعاَلَى غَيْرَ
مَوْجُوْدَةٍ وَلاَ مَعْدُوْمَةٍ وَهِيَ غَيْرُ
الْحَياَةِ وَفِيْهِ جَمِيْعُ ماَ تَقَدَّمَ
Sifat ke 17 dari sifat
– sifat Allah Ta’ala adalah Kaunuhu
Hayyan ( keberadaan Allah hidup ) dan dia adalah dzat yang berdiri dengan
dzat Allah dalam keadaan tidak maujud dan tidak pula ma’dum dan dia adalah lain
dari pada hayat dan di dalamnya terdapat semua apa yang telah terdahulu”.[30]
وَالدَّلِيْلُ
عَلَيْهاَ هُوَ دَّلِيْلُ الْحَياَةِ
وَاِذاَ ثَبَتَ لَهُ تَعَالَى كَوْنُهُ حَيّاً اِسْتَحاَلَ عَلَيْهِ
كَوْنُهُ مَيِّتاً الَّذيْ هُوَ
ضِدُّ كَوْنِهِ حَيّاً
Dalil bahwa Allah swt.
Itu memiliki sifat Kaunuhu Hayyan ( keberadannya maha hidup ) itu sama
dengan dalil sifat Al-hayat. Apabila Allah sudah pasti memiliki sifat Kaunuhu Hayyan,
maka mustahil Dia memiliki sifat Kaunuhu Mayyitan ( keberadaanNya mati),
lawan sifat Kaunuhu Hayyan.[31]
18. Sifat Kedelapan Belas :
Kaunuhu Sami’an.
اَلصِّفَةُ
الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفاَتِهِ
تَعاَلَى كَوْنُهُ تَعاَلَى سَمِيْعاً
وَهِيَ صِفَةٌ قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ
تَعاَلَى غَيْرَ
مَوْجُوْدَةٍ وَلاَ مَعْدُوْمَةٍ وَهِيَ غَيْرُ
السَّمْعِ وَفِيْهِ جَمِيْعُ ماَ تَقَدَّمَ
Sifat ke 18 dari sifat
– sifat Allah Ta’ala adalah Kaunuhu Sami’an
( keberadaan Allah mendengar ) dan dia adalah dzat yang berdiri dengan dzat
Allah dalam keadaan tidak maujud dan tidak pula ma’dum dan dia adalah lain dari
pada mendengar dan di dalamnya terdapat semua apa yang telah terdahulu”.[32]
وَالدَّلِيْلُ
عَلَيْهاَ هُوَ الدَّلِيْلُ عَلَى السَّمْعِ
وَاِذاَ ثَبَتَ لَهُ تَعَالَى كَوْنُهُ سَمِيْعاً اِسْتَحاَلَ عَلَيْهِ
كَوْنُهُ اَصَمَّ الَّذيْ
هُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ سَمِيْعاً
Dalil bahwa Allah swt.
Itu memiliki sifat Kaunuhu Sami’an ( keberadannya maha mendengar ) itu
sama dengan dalil sifat As-sam’u. Apabila Allah sudah pasti memiliki
sifat Kaunuhu Sami’an,
maka mustahil Dia memiliki sifat Kaunuhu Asham ( keberadaanNya tuli),
lawan sifat Kaunuhu Sami’an”.[33]
19. Sifat Kesembilan Belas : Kaunuhu Bashiron.
اَلصِّفَةُ
التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ الْواَجِبَةُ لَهُ
تَعاَلَى كَوْنُهُ بَصِيْراً وَهِيَ
صِفَةٌ قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ تَعاَلَى غَيْرَ مَوْجُوْدَةٍ
وَلاَ مَعْدُوْمَةٍ وَهِيَ غَيْرُ البَصَرِ
وَفِيْهِ جَمِيْعُ ماَ تَقَدَّمَ
Sifat ke 19 dari sifat
– sifat Allah Ta’ala adalah Kaunuhu Bashiron
( keberadaan Allah melihat ) dan dia adalah dzat yang berdiri dengan dzat
Allah dalam keadaan tidak maujud dan tidak pula ma’dum dan dia adalah lain dari
pada melihat dan di dalamnya terdapat semua apa yang telah terdahulu”.[34]
وَدَلِيْلُهاَ هُوَ
دَّلِيْلُ الْبَصَرِ وَاِذاَ ثَبَتَ لَهُ
تَعَالَى كَوْنُهُ بَصِيْراً اِسْتَحاَلَ عَلَيْهِ كَوْنُهُ اَعْمَى الَّذيْ هُوَ ضِدُّ
كَوْنِهِ بَصِيْراً
Dalil bahwa Allah swt.
Itu memiliki sifat Kaunuhu Bashiron
itu sama dengan dalil sifat Bashor. Apabila Allah sudah pasti
memiliki sifat Kaunuhu
Bashiron, maka mustahil Dia memiliki sifat Kaunuhu A’ma (
keberadanNya buta), lawan sifat Kaunuhu Bashiron.[35]
20. Sifat Kedua Puluh : Kaunuhu Mutakalliman.
اَلصِّفَةُ
الْعِشْرُوْنَ وَهِيَ تَماَمُ ماَ يَجِبُ عَلَى التَّفْصِيْلِ وَهِيَ كَوْنُهُ
تَعاَلىَ مُتَكَلِّماً وَهِيَ صِفَةٌ
قاَئِمَةٌ بِذاَتِهِ
تَعاَلَى غَيْرَ مَوْجُوْدَةٍ وَلاَ
مَعْدُوْمَةٍ وَهِيَ غَيْرُ الْكَلاَمِ
وَفِيْهِ جَمِيْعُ ماَ تَقَدَّمَ
Sifat ke 20 yakni
kesempurnaan dari apa – apa yang wajib bagi Allah Ta’ala secara Tafshil adalah Kaunuhu Mutakalliman (
keberadaan Allah berbicara ) dan dia adalah dzat yang berdiri dengan dzat Allah
dalam keadaan tidak maujud dan tidak pula ma’dum dan dia adalah lain dari pada
berbicara dan di dalamnya terdapat semua apa yang telah terdahulu”.[36]
Sifat yang tujuh
Kaunuhu Qodiron, Kaunuhu Muriidan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu
Sami’an, Kaunuhu Bashiron dan Kaunuhu Mutakalliman disebut dengan sifat Ma’nawiyyah.Sebagaimana
disebutkan oleh As-Sanusi dalam kitabnya “Ad- Dasuqi Ala Ummil
Barohin”:
ثُمَّ سَبْعُ صِفاَتٍ ,
تُسَمَّى صِفاَتٍ مَعْنَوِيَّةً, وَهِيَ مُلاَزِمَةٌ لِلسَّبْعِ الْاُوْلىَ.
Kemudian ketujuh sifat
dinamakan sifat ma’nawiyyah dan dia melazimi bagi ketujuh sifat
yang pertama”.[37]
B. Telaah Buku Kifayatul Awwam
1. IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Kifayatul
Awam
Pengarang : Syeikh
Muhammad Al- Fudholi
Penerbit :
Mutiara Ilmu
Desain Sampul : Tim Grafis
Mutiara Ilmu
Tahun Terbit : 2012
Kota terbit : Surabaya
Ukuran Buku : 14,5 x 20,1 cm
Jumlah Halaman : `171
Jenis Kertas : HVS
2. Kriteria kelayakan
buku :
a.
Kelayakan Isi :
Buku “Kifayatul Awam” yang membahas tentang pembahasan ajaran
tauhid Ahlussunnah memiliki standart yang tidak perlu di ragukan lagi.Ini bisa
kita buktikan dengan begitu banyaknya pesantren yang menggunakan buku ini
menjadi buku pegangan untuk pelajaran Tauhid. Materi di dalam buku ini sangat
baik di dalam menjelaskan sifat 20 dengan dalil – dali Aqlinya.
b.
Keakuratan Materi.
Materi yang ada dalam
buku ini memiliki keakuratan dan terkonsep dalam satu buku yang tidak
menimbilkan banyak defenisi, sehingga tidak membuat bingung bagi pelajar yang
mempelajarinya walaupun mungkin ada beberapa bagian yang memang memerlukan
kedalaman untuk berfikir.
c.
Relevansi Materi.
Materi yang di sajikan masih dirasakan
sangat relevansi dengan perkembangan zaman untuk bidang ilmu Tauhid. Pembahasan
yang di sajikan lengkap dengan dalil yang mempergunakan aqal secara lebih luas
untuk mengenal Allah dengan sifat – sifatnya . Isu seputar bagaimana status
keislaman orang tua nabi Muhammad, perbedaan pendapat tentang Muqollid dan juga
wajibnya kita beriman bahwa di akhirat nanti nabi Muhammad saw.akan memberikan
syafaatnya.
d.
Kelengkapan Penyajian
Kelengkapan penyajian yang terdiri atas
bagian awal ( sampul, sekapur sirih, kata pengantar, daftar isi ). Dimensi buku
cukup proporsional dengan ukuran buku 14,5 x 20,1 cm, dan desain cover buku
yang cukup sederhana.
Penyajian di bagian inti sangat baik
hanya saja kurangnya dalil Naqli yang tidak dicantumkan dalam kebanyakan
membahas sifat 20 karena memang tidak bisa kita pungkiri kitab ini hanyalah
pengantar yang membawa kita memahami sifat – sifat Allah secara simple. Karena
sesuai dengan namanya Kifayatul Awam yang berarti Cukup Untuk Orang Awam maka
bagi kita akademisi alangkah lebih baiknya kita melanjutkannya lagi dengan
kitab atau buku yang lebih luas lagi pembahasannya. Pada bagian akhir juga
tidak kita temui daftar pustaka karena memang demikianlah teknik penulisan
kitab – kitab klasik tidak mencantumkan daftar pustaka di bagian akhir.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
uraian singkat diatas dapat
disimpulkan bahwa sifat 20 yang wajib bagi Allah terbagi menjadi 4 bagian :
a.
sifat nafsiyah yaitu wujud
b.
sifat salbiyah yaitu qidam, baqo’,
mukholafatuhu lil hawadis, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyat.
c.
sifat ma’ani yaitu qudrat, iradat, ilmu,
hayat, sama’, bashor, kalam
d.
sifat ma’nawiyah yaitu kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu
‘aliman, kaunuhu
hayyan,
kaunuhu sami’an,
kaunuhu bashiran,
kaunuhu mutakalliman
Taalluq bagi sifat
ma’ani dengan beberapa kemungkinan dan perkara yang wujud ada 4 bagian:
a.
sesuatu yang
berhubungan dengan beberapa kemungkinan yaitu : sifat qudrat dan sifat iradat.
Namun, hubungan yang pertama merupakan perwujudan dan peniadaan. Dan hubungan
kedua, yakni sifat iradat merupakan hubungan secara ketentuan
b.
Sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal
yang wajib, kewenangan dan kemustahilan yaitu, sifat ilmu dan kalam. Namun,
hubungan yang pertama merupakan taalluq secara terbuka. Sedangkan sifat kalam
sebagai penunjuk.
c.
Sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal
yang wujud adalah sifat sama’dan bashor.
d.
Sesuatu yang tidak berhubungan sama
sekali yaitu sifat hayat.
Bagi orang-orang mukallaf tidak diwajibkan mengetahui taalluq sifat tersebut, mukallaf hanya wajib memahami sifat-sifat Allah secara global beserta dalil-dalilnya.
Bagi orang-orang mukallaf tidak diwajibkan mengetahui taalluq sifat tersebut, mukallaf hanya wajib memahami sifat-sifat Allah secara global beserta dalil-dalilnya.
Karena
mengetahui taalluq termasuk mendalami
ilmu kalam.
Sifat jaiz bagi Allah hanya satu yaitu kebebasan meniadakan atau mengadakan sesuatu, merupakan kewenangan yang mutlak bagi Allah Taala.
Sifat jaiz bagi Allah hanya satu yaitu kebebasan meniadakan atau mengadakan sesuatu, merupakan kewenangan yang mutlak bagi Allah Taala.
B. Saran
Demikian yang dapat
kami susun mengenai materi sifat-sifat Allah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap
para pembaca mau memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan
berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis ada khususnya, juga para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
As-Sanusi, Ad-Dasuki, ‘Ala Ummil Barohin, (Jakarta:
Dar Al-kutub Al-Islamiyah 2012)
Muhammad Al-Fudholi, Terjemah Kifayatul
Awam, (Surabaya: Mutiara Ilmu 2012)
Mumammad An-Nawawi, Terjemah Tijan
Ad-Darori, (Surabaya:Mutiara Ilmu, 2010)
Mumammad An-Nawawi, Terjemah Fathul Majid, (Surabaya:
Mutira Ilmu 2014)
Sayyid
Sabiq, Aqidah Islamiyyah, (Jakarta
: Robbani Press 2006)
Syeik Ibrahim Al-Laqqoni, Terjemah
Jauhararut Tauhid, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2010)
Komentar
Posting Komentar