TEORI MODEL DAN PENDEKATAN
STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Strategi dan Media Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu:
Dr. Mardianto, M.Pd
Dr. Haidir, M.Pd

Disusun Oleh:
Dimas Pradifta
Hafridah Ilba
Hj. Siti Aisah


NIM  :  0331173027


SEMESTER II/PAI A MAGISTER

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM S2 MAGISTER
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
TA. 2017/2018



Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam yang menciptakan kita bersuku-suku agar kita saling mengenal. Shalawat serta salam semoga senantiasa terhaturkan kepada sayyidina muhammad s.a.w.
Makalah yang berjudul Teori Model dan Pendekatan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis ajukan untuk memenuhi mata kuliah strategi dan media pembelajaran PAI. Lain dari hal itu, muncul dari dalam benak penulis, dengan banyaknya ide-ide dalam dunia pendidikan yang saat ini trendnya seakan mengikuti teori-teori dari orang-orang barat. Padahal Islam sebagai peradaban yang pernah berjaya, dengan mengkombinasikan antara wahyu dan akal seharusnya punya keistimewaan dan keunggulan tersendiri. Pendidikan Islam tentu punya etika keilmuan tersendiri sebagai penilaian baik dan buruknya.
Dalam penulisan makalah ini, masih banyak kekuranga, hal itu tidak lain karena kekurangan dari penulis. Kesempurnaan adalah milik Allah, dan kekurangan itu merupakan sifat kemanusiaan. Dan penulis berharap, adanya masukan, arahan, kritik dan saran  yang bersifat membangun demi terciptanya saling tolong menolong dalam kebaikan.
Akhirnya, penulis dengan penuh harapan, agar kiranya Allah SWT berkenan menjadikan makalh ini bermanfaat bagi siapapun, tak terkecuali bagi penulis sendiri. Ini hanyalah amal dari penulis, dan Allah maha berkuasa dan berkehendak atas segala seuatu.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Medan, 19 Maret 2018



   Penulis




Pendidikan adalah kewajiban setiap orang Islam. Bahkan dalam tafsir tarbawi, dijelaskan bahwa pendidikan tidaklah semata kewajiban. Pendidikan merupakan keharusan bahkan kebutuhan bagi setiap orang. Karena pendidikan memaksimalkan potensi yang ada pada diri manusia dengan memaksimalkan fungsi akal yang menjadi keistimewaannya.
Namun, pada akhirnya dalam pendidikannya, setiap orang tidaklah sama hasilnya. Diantaranya karena faktor pembawaan dan juga faktor lingkungannya, dan menurut Abdurrahman Assegaf, faktor pendidikan itu sendiri lah yang juga mempengaruhinya.
Hal yang paling utama adalah proses pendidikan yang dilakukan. Dengan adanya perbaikan dalam pembelajaran, niscaya anak didik akan lebih mudah menerima materi pendidikannya. Diantaranya dengan menggunakan model dan strategi pembelajaran.
Dengan memahami model dan strategi, baik konsep, prinsip maupun fungsi dan tujuannya, diharapkan akan adanya peningkatan pendidikan dari berbagai aspeknya, baik dari sisi pengajar, pelajar maupun proses pembelajarannya.

B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimanakah pengertian dan teori model pembelajaran PAI?
2.         Bagaimanakah bentuk pendekatan pembelajaran PAI?
3.         Bagaimanakah bentuk strategi pembelajaran PAI?
4.         Bagaimanakah jenis strategi pembelajaran?

1.         Untuk mengetahui pengertian dan teori model pembelajaran PAI
2.         Untuk mengetahui bentuk pendekatan pembelajaran PAI
3.         Untuk mengetahui bentuk strategi pembelajaran PAI
4.         Untuk mengetahui jenis strategi dalam pembelajaran





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori Model Pembelajaran
Secara umum istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Dalam pengertian lain, model juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang sesungguhnya, seperti “globe” yang merupakan model dari bumi tempat kita hidup. Dalam istilah selanjutnya, istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian yang pertama sebagai kerangka konseptual. Atas pemikiran tersebut, maka yang dimaksud dengan “model belajar mengajar” adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan dalam pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran, serta para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar benar-benar kegiatan bertujuan yang tersusun secara sistematis.
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial dan untuk menetukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dan lain-lain. Joyce menyatakan bahwa setiap pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikan rupa sehingga tujan pembelajaran tercapai.
Model pembelajaran mempunyai empat cirri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
a.         Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
b.        Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai);
c.         Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil;
d.        Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.[1]


Pengertian model pembelajaran menurut Jihad dan Haris yang menyatakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi siswa, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dan dalam rencana pengajaran.[2]
Selanjutnya definisi model pembelajaran menurut Trian yang mengartikan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.[3]
Sedangkan arti model pembelajaran menurut Agus menyatakan bahwa model pembelajaran adalah landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional kelas.[4]
Kemudian model pembelajaran menurut pandangan Arends dalam Agus yang mengatakan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya:
1.        Tujuan-tujuan pembelajaran.
2.        Tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran.
3.        Lingkungan pembelajaran serta.
4.        Pengelolaan kelas.
Berdasarkan pengertian, teori konsep/definisi beberapa para ahli diatas mengenai model pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa arti model pembelajaran adalah suatu pola perencanaan yang digunakan dan berfungsi sebagai pedoman susunan rencana proses pembelajaran (belajar-mengajar) yang akan dilaksanakan.

B.       Pendekatan Pembelajaran
Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris “approach” yang memiliki beberapa arti, di antaranya diartikan dengan “pendekatan”. Dalam dunia pengajaran, kata approach lebih tepat di artikan  a way of beginning something (cara memulai sesuai). Oleh karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan sebagai “cara memulai pelajaran”.
Pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang scenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi dua bagian, yaitu pendekatan konservatif dan pendekatan liberal. Pendekatan konserfatif memandang bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sebagaimana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa lebuh banyak sebagai penerima. Sedangkan pendekatan liberal adalah pendekatan pembelajaran yang member kesempatan luas kepada siswa untuk mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri.[5]

Jenis-jenis Pendekatan dalam Pembelajaran
a.    Pendekatan Individualistic
Pendekatan individualistic dalam proses pembelajaran, adalah sebuah pendekatan yang bertolak pada asumsi bahwa peserta didik memiliki latar belakang perbedaan dari segi kecerdasan, bakat, kecenderungan, motivasi, dan sebagainya. Perbedaan individualistis peserta didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pembelajaran harus memerhatikan perbedaan peserta didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi belajar mengajarnya. Bila hal ini tidak dilakukan, makastrategi belajar tuntas (mastery learning) yang menuntut penguasaan penuh kepada peserta didik tidak pernah menjadi kenyataan. Dengan pendekatan individual ini kepada peserta didik dapat diharapkan memiliki tingkat penguasaan materi yang optimal.
Pendekatan belajar individualistis ini berguna untuk mengatasi peserta didik yang suka benyak bicara atau membuat keributan dalam kelas. Caranya antara lain dengan memindahkan salah satu peserta didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukuup jauh dengan peserta didik lainnya. Peserta didik yang suka berbicara ditempatkan pada anak didik yang pendiam.[6]
Melalui pendekatan ini, kesulitan peserta didik dalam belajar segera dapat dipecahkan. Pendekatan individualistic juga adalah pendekatan uang demokratis, karena memperlakukan setiap peserta didik sesuai dengan keinginannya. Dengan pendekatan ini, penghargaan terhadap kecakapan peserta didik yang berbeda-beda dapat dilakukan. Bagi peserta didik yang mau belajar sungguh-sungguh dan cerdas, memiliki kesempatan dan peluang untuk belajar lebih cepat. Sebaliknya, peserta didik yang kurang cerdas dan kurang sungguh-sungguh dapat menyelesaikan pelajarannya sesuai dengan kesanggupannya.
Namun demikian, pendekatan ini selain memiliki manfaat dan keuntungan, juga tidak terlepas dari kekurangan. Pendekatan individualistis mengharuskan seorang guru memberikan perlakuan yang berbeda-beda pada setiap peserta didik. Keadaan ini amat menyulitkan, jika jumlah peserta didiknya cukup banyak, karena akan memakan waktu yang cukup banyak pula, dan karenanya kurang efisien. Selain itu, pendekatan ini juga mengharuskan adanya desain kelas yang kecil-kecil (small class) yang jumlahnya cukup banyak. kelas kecil yang jumlahnya cukup banyak ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu orang guru, melainkan oleh sebuah team teacher. Pendekatan ini menyebabkan peserta didik kurang memiliki kesempatan untuk bersosialisasi, dan pada gilirannya dapat menimbulkan sikap individualistis pada peserta didik.
b.        Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok adalah sebuah pendekatan yang didasarkan pada pandangan, bahwa pada setiap peserta didik terdapat perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan antara satu dan lainnya. perbedaan yang peserta didik yang satu dengan yang lainnya ini, bukanlah untuk dipertentangkan atau dipisahkan, melainkan harus diintegrasikan. Seorang peserta didik yang cerdas misalnya, dapat disatukan dengan peserta didik yang kurang cerdas, sehingga peserta didik yang kurang cerdas itu dapat ditolong oleh peserta didik yang cerdas. Demikian pula, persamaan yang dimiliki antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya dapat disinergikan sehingga dapat saling menunjang secara optimal.
Selain itu, pendekatan kelompok ini juga didasarkan pada asumsi, bahwa setiap anak didik memiliki kecenderungan untuk berteman dan berkelompok dalam rangka memperoleh pengalaman hidup dan bersosialisasi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan pendekatan kelompok ini, diharapkan dapat ditumbuhkan rasa sosial yang tinggi pada setiap peserta didik, dan sekaligus untuk mengendalikan rasa egoism yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di dalam kelas.
Dengan pendekatan kelompok ini, mereka diharapkan memiliki kesadaran bahwa hidup ini ternyata hidup ini saling membutuhkan dan saling tergantung antara satu dengan yang lainnya. tidak ada makhluk hidup yang terus menerus dapat mencukupi dirinya tanpa bantuan orang lain.
Sehubungan dengan penggunaan pendekatan kelompok sebagaimana tersebut di atas, terdapat sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan, seperti faktor tujuan, peralatan dan sumber belajar, metode yang akan dipergunakan, lingkungan tempat belajar, serta keadaan peserta didik itu sendiri. Dengan demikian, penggunaan pendekatan kelompok ini tidak dapat dilakukan secara sembrono atau tanpa perhitungan yang matang.[7]
c.       Pendekatan Campuran
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan, bahwa seorang anak didik di samping memiliki latar belakang perbedaan secara individual, juga memiliki persamaan sebagai makhluk yang berkelompok. Dengan demikian, setiappeserta didik sesungguhnya dapat didekati secara individual dan kelompok. Pada bagian terdahulu juga sudah dikemukakan, bahwa pada pendekatan individual dan kelompok masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Keadaan sebagaimana tersebut di atas, member petunjuk tentang kemungkinan dapat dilakukan pendekatan yang ketiga, yaitu pendekatan campuran, yaitu sebuah pendekatan yang bertumpu pada upaya menyinergikan keunggulan yang terdapat pada pendekatan individual dan keunggulan yang terdapat pada pendekatan kelompok. Namun dalam praktiknya, pendekatan campuran ini akan jauh lebih banyak masalahnya dibandingkan dengan dua pendekatan sebagaimana tersebut di atas. Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan peserta didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan permaslahan peserta didikyang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi peserta didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Uraian tersebut di atas telah menjelaskan, bahwa setiap peserta didik memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam belajar.dari atu sisi terdapat peserta didik yang memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, namun pada sisi lain terdapat peserta didik yang motivsi belajarnya sedang-sedang saja, atau rendah. Keadaan ini swlanjutnya menimbulkan keadaan peserta didik yang satu bergairah dalam dalam belajar, sedangkan peserta didik yang lainnya biasa-biasa saja, bahkan tidak bergairah sama sekali, dan tidak mau ikut belajar. Ia malah asyik bersenda gurau, bermain-main, atau melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar. Mereka duduk dan berbicara, berbincang-bincang satu sama lain tentang hal-hal yang terlepas dari masalah pelajaran.[8]
d.      Pendekatan Edukatif
Apapun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif1ain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan sebagainya.Anak didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, noram sosial, dan norma agama.
Cukup banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak didik. Salah satu contohnya misalnya, ketika lonceng tanda masuk kelas telah berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah mereka bebaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan. Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya. Demikian juga semua anak laki-laki, berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, barisan dibentuk menjadi dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi pintu masuk guru berdiri sambi! mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan pintu masuk kelas. Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu per satu masuk kelas, mereka satu per satu menyalami guru dan mencium tangan guru sebelum dilepas. Akhirnya, semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.
Guru yang hanya mengajar di kelas, belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik disebabkan komunikasi antara guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bermasalah.
Guru yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan tertutup atas apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang introver (tertutup).
Kasuistis yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tingkat kesukarannya. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan individual,adajuga yang dapat didekati dengan pendekatan kelompok, dan ada pula yang dapat didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang penting untuk diingat adalah bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan edukatif; pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bemilai edukatif, dengan tujuan untuk mendidik. Tindakan guru karena dendam, marah, kesal, benci, dan sejenisnyabukanlah termasuk perbuatan mendidik, karena apa yang guru lakukan itu menurutkan kata hati atau untuk memuaskan hati.
Selain berbagai pendekatan yang disebutkan di depan, ada lagi pendekatan-pendekatan lain. Berdasarakan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macampendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya saling menunjang dan saling melengkapi.





C.      Strategi Pembelajaran PAI
1.         Makna Strategi
Istilah strategi (strategy) berasal dari “kata benda” dan “kata kerja” dalam bahasa Yunani. Sebagai kata benda, strategos merupakan gabungan kata stratos(militer) dengan “ago” (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan).
Istilah strategi pertama kali hanya di kenal dikalangan militer, khususnya strategi perang. Dalam sebuah peperangan atau pertempuran, terdapat seseorang (komandan) yang mengatur strategi untuk memenangkan peperangan. Semakin hebat strategi yang digunakan (selain kekuatan pasukan perang), semakin besar kemungkinan untuk menang. Biasanya, sebuah strategi disusun dengan mempertimbangkan medan perang, kekuatan pasukan, pelengkapan perang dan sebagainya.
Menurut Fattah dan Ali dalam Hadijaya, strategi merupakan suatu seni menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya melalui hubungannya yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling menguntungkan. Jadi, strategi merupakan kerangka dasar tempat suatu organisasi melanjutkan kehidupannya dengan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungannya.
Menurut Hax dalam dalam Hadijaya, strategi merupakan pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan, dan tindakan yang berurutan dari sebuah organisasi menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
Seiring berjalannya waktu, istilah strategi di dunia militer tersebut diadopsi ke dalam dunia pendidikan. Dalam konteks pendidikan, strategi digunakan untuk mengatur siasat agar dapat mencapai tujuan dengan baik. Dengan kata lain, strategi dalam konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi serangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan. Strategi pendidikan mengarah kepada hal yang lebih spesifik, yakni khusus pada pembelajaran. Konsekuensinya, strategi dalam konteks pendidikan dimaknai secara berbeda dengan strategi dalam konteks pembelajaran.[9]
Strategi merupakan pola umum rentetan kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam pembelajaran perlu strategi agar tujuan tercapai dengan optimal.[10] Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
Dari beberapa definisi diatas dapat pemakalah simpulkan bahwa strategi merupakan bagian dari kumpulan rencana yang disatupadukan menjadi sebuah sistem yang dapat menghasilkan keuntungan maupun kerugian bagi pembuat sistem.
2.         Makna Pembelajaran
Secara sederhana, istilah pembelajaran bermakna sebagai upaya membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya dan berbagai strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Beberapa ahli mengemukakan tentang pengertian pembelajaran, diantarannya:
a.       Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (UU SPN No. 20 tahun 2003).
b.      Pembelajaran adalah rangkaian peristiwa yang mempengaruhi pembelajaran sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan mudah.
c.       Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Mohammad Surya).
Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang mengkondisikan seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu kegiatan pembelajaran ada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar.
3.      Makna Strategi Pembelajaran
Strategi yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan pesrta didik.
Strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujaun umum pembelajaran. Berikut pendapat beberapa ahli berkaitan dengan pengertian strategi pembelajaran.
a.         Kozma dan Sanjaya (2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
b.         Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru serta peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
c.         Wina Sanjaya (2006) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran.[11]
Secara umum strategi dalam pendidikan yaitu pengetahuan atau seni mendayagunakan semua faktor atau kekuatan untuk mengamankan sasaran kependidikan yang hendak dicapai melalui perencanaan dan pengarahan dalam operasionaliasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan yang ada, termasuk pula perhitungan tentang hambatan-hambatannya berupa fisik maupun yang bersifat non fisik (seperti mental  dan  moral  baik  dari  subjek,  objek  maupun lingkungan sekitar). Jadi, strategi pendidikan dapat diartikan sebagai kebijaksanaan dan metode umum pelaksanaan proses pendidiakan.[12]
Dapat diketahui bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dari pengertian diatas dapat di ambil garis besar bahwa strategi pembelajaran sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan termasuk penggunaan metode, materi, peserta didik, bahan ajar maupun waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Sementara dalam konteks agama Islam,  Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu rangkaian bahan pembelajaran pendidikan agama Islam dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama-sama dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

D.      Jenis Strategi Pembelajaran
          Strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1.         Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk didalamnya metode-metode ceramah, praktek dan latihan serta demonstrasi. Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah.
2.         Strategi Pembelajaran tidak langsung
Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang tinggi dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran yang berdasarkan data.  Dala pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal. Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, dan sumber-sumber manusia.
3.         Strategi Pembelajaran Interaktif
Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi diantara peserta didik. Seaman dan Fellenz mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternative dalam berpikir.
4.         Strategi Pembelajaran melalui Pengalaman
Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada aktivitas, penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar dan bukan hasil belajar. Guru dapat menggunakan strategi ini baik didalam kelas maupun diluar kelas.
5.         Strategi Pembelajaran Mandiri
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan kekurangnnya adalah peserta belum dewasa, sulit menggunakan pembelajaran mandiri.[13]











BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu rangkaian bahan pembelajaran pendidikan agama Islam dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama-sama dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sebagai sebuah sistem, pembelajaran memerlukan suatu strategi agar tujuan itu tercapai, strategi memiliki komponen-komponen yang saling terkait sehingga antar sesama komponen terjadi kerjasama, berikut adalah komponen-komponennya; guru, peserta didik, tujuan, bahan pelajaran, kegiatan pembelajaran, metode, alat, sumber belajar, evaluasi, dan situasi atau lingkungan. komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, karena semuannya merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran secara umum terbagi jadi tiga pokok, yakni tahapan permulaan, tahapan pengajaran, tahapan penilaian dan tahapan tindak lanjut. Tahapan prainstruksional adalah tahapan yang ditempuh guru pada saat memulai proses belajar mengajar. Tahapan instruksional adalah tahap pengajaran atau tahapan yang memberikan bahan pelajaran yang telah disusun guru selanjutnya. Tahapan evaluasi dan tindak lanjut adalah tahapan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan kedua. Ketiga tahapan ini harus ditempuh pada setiap melaksakan pengajaran, jika satu tahapan tersebut ditinggalkan, maka sebenarnya tidak dapat dikatakan telah terjadi proses pembelajaran.
B.       Saran
Dari beberapa Uraian diatas jelas banyak kesalahan serta kekeliruan, baik disengaja maupun tidak. Oleh karna itu, kami harapkan kritik dan sarannya untuk memperbaiki segala keterbatasan yang kami punya, sebab manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

DAFTAR PUSTAKA


Asril, Zainal. 2011. Micro Teaching, Jakarta: Rajawali Pers.
MajidAbdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Suyadi.  2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Agus, Suprijono. 2009. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Nata, Abuddin, 2009. Perspektif Islam tentang strategi pembelajaran, Jakarta : Prenada Media Group.
Sobroto, Seno. 2006. Seri Bahasa Indonesia, Semarang:  Aneka Ilmu, 2006.




;


[1] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 12-14.
[2] Asep Jihad, dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2010), hlm. 25.
[3] Trianto. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 1.
[4] Suprijono Agus. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), hlm. 46.

[5] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran . . . hlm. 19-20.
[6] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 153
[7] Abuddin Nata, Perspektif …….., hlm. 155-156.
[8] Ibid., hlm. 159.
[9] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 13. 
[10] Zainal Asril, Micro Teaching, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal.13
[11] Abdul Majid, Strategi………, hlm. 3-8.
[12] Seno Sobroto, Seri Bahasa Indonesia, (Semarang:  Aneka Ilmu, 2006), hal. 340.
[13] Abdul Majid, Strategi………, hlm. 11-12.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer