TEORI MODEL
DAN PENDEKATAN
STRATEGI
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah Strategi dan Media Pembelajaran PAI
Dosen
Pengampu:
Dr. Mardianto, M.Pd
Dr. Haidir, M.Pd
Disusun
Oleh:
Dimas Pradifta
Hafridah Ilba
Hj. Siti Aisah
Hj. Siti Aisah
![]() |
NIM : 0331173027
SEMESTER II/PAI A MAGISTER
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM S2 MAGISTER
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUMATERA
UTARA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi
Allah, Tuhan seru sekalian alam yang menciptakan kita bersuku-suku agar kita saling
mengenal. Shalawat serta salam semoga senantiasa terhaturkan kepada sayyidina
muhammad s.a.w.
Makalah yang berjudul Teori Model dan Pendekatan
Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis ajukan untuk memenuhi
mata kuliah strategi dan media pembelajaran PAI. Lain dari hal itu, muncul dari
dalam benak penulis, dengan banyaknya ide-ide dalam dunia pendidikan yang saat
ini trendnya seakan mengikuti teori-teori dari orang-orang barat.
Padahal Islam sebagai peradaban yang pernah berjaya, dengan mengkombinasikan
antara wahyu dan akal seharusnya punya keistimewaan dan keunggulan tersendiri.
Pendidikan Islam tentu punya etika keilmuan tersendiri sebagai penilaian baik
dan buruknya.
Dalam penulisan makalah ini, masih banyak
kekuranga, hal itu tidak lain karena kekurangan dari penulis. Kesempurnaan
adalah milik Allah, dan kekurangan itu merupakan sifat kemanusiaan. Dan penulis
berharap, adanya masukan, arahan, kritik dan saran yang bersifat
membangun demi terciptanya saling tolong menolong dalam kebaikan.
Akhirnya, penulis dengan penuh
harapan, agar kiranya Allah SWT berkenan menjadikan makalh ini bermanfaat bagi
siapapun, tak terkecuali bagi penulis sendiri. Ini hanyalah amal dari penulis,
dan Allah maha berkuasa dan berkehendak atas segala seuatu.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Medan, 19 Maret
2018
Penulis
Pendidikan adalah kewajiban setiap
orang Islam. Bahkan dalam tafsir tarbawi, dijelaskan bahwa pendidikan tidaklah
semata kewajiban. Pendidikan merupakan keharusan bahkan kebutuhan bagi setiap
orang. Karena pendidikan memaksimalkan potensi yang ada pada diri manusia
dengan memaksimalkan fungsi akal yang menjadi keistimewaannya.
Namun, pada akhirnya dalam
pendidikannya, setiap orang tidaklah sama hasilnya. Diantaranya karena faktor
pembawaan dan juga faktor lingkungannya, dan menurut Abdurrahman Assegaf, faktor
pendidikan itu sendiri lah yang juga mempengaruhinya.
Hal yang paling utama adalah proses
pendidikan yang dilakukan. Dengan adanya perbaikan dalam pembelajaran, niscaya
anak didik akan lebih mudah menerima materi pendidikannya. Diantaranya dengan
menggunakan model dan strategi pembelajaran.
Dengan memahami model dan strategi,
baik konsep, prinsip maupun fungsi dan tujuannya, diharapkan akan adanya
peningkatan pendidikan dari berbagai aspeknya, baik dari sisi pengajar, pelajar
maupun proses pembelajarannya.
1.
Bagaimanakah
pengertian dan teori model pembelajaran PAI?
2.
Bagaimanakah
bentuk pendekatan pembelajaran PAI?
3.
Bagaimanakah
bentuk strategi pembelajaran PAI?
4.
Bagaimanakah
jenis strategi pembelajaran?
1.
Untuk
mengetahui pengertian dan teori model pembelajaran PAI
2.
Untuk
mengetahui bentuk pendekatan pembelajaran PAI
3.
Untuk
mengetahui bentuk strategi pembelajaran PAI
4.
Untuk
mengetahui jenis strategi dalam pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Model Pembelajaran
Secara
umum istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan
sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Dalam pengertian lain, model juga
diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang sesungguhnya,
seperti “globe” yang merupakan model dari bumi tempat kita hidup. Dalam istilah
selanjutnya, istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian yang pertama
sebagai kerangka konseptual. Atas pemikiran tersebut, maka yang dimaksud dengan
“model belajar mengajar” adalah kerangka konseptual dan prosedur yang
sistematik dalam mengorganisasikan dalam pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar tertentu, berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran,
serta para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar
benar-benar kegiatan bertujuan yang tersusun secara sistematis.
Model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial dan
untuk menetukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya
buku-buku, film, computer, kurikulum dan lain-lain. Joyce menyatakan bahwa
setiap pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta
didik sedemikan rupa sehingga tujan pembelajaran tercapai.
Model
pembelajaran mempunyai empat cirri khusus yang membedakan dengan strategi,
metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
a.
Rasional
teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
b.
Landasan
pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran
yang akan dicapai);
c.
Tingkah
laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan
berhasil;
d.
Lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.[1]
Pengertian model pembelajaran menurut Jihad dan
Haris yang menyatakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu
rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi
siswa, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dan dalam rencana pengajaran.[2]
Selanjutnya definisi model pembelajaran menurut
Trian yang mengartikan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.[3]
Sedangkan arti model pembelajaran menurut Agus menyatakan
bahwa model pembelajaran adalah landasan praktik pembelajaran hasil penurunan
teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan
analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat
operasional kelas.[4]
Kemudian model pembelajaran menurut pandangan Arends
dalam Agus yang mengatakan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan
yang akan digunakan, termasuk di dalamnya:
1.
Tujuan-tujuan pembelajaran.
2.
Tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran.
3.
Lingkungan pembelajaran serta.
4.
Pengelolaan kelas.
Berdasarkan pengertian, teori konsep/definisi
beberapa para ahli diatas mengenai model pembelajaran, maka dapat
disimpulkan bahwa arti model pembelajaran adalah suatu pola
perencanaan yang digunakan dan berfungsi sebagai pedoman susunan rencana proses
pembelajaran (belajar-mengajar) yang akan dilaksanakan.
B. Pendekatan Pembelajaran
Istilah
pendekatan berasal dari bahasa Inggris “approach” yang memiliki beberapa arti,
di antaranya diartikan dengan “pendekatan”. Dalam dunia pengajaran, kata approach lebih
tepat di artikan a way of beginning something (cara memulai
sesuai). Oleh karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan sebagai “cara
memulai pelajaran”.
Pendekatan
pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang scenario yang digunakan
guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi dua bagian, yaitu pendekatan
konservatif dan pendekatan liberal. Pendekatan konserfatif memandang bahwa
proses pembelajaran yang dilakukan sebagaimana umumnya guru mengajarkan materi
kepada siswanya. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, sedangkan
siswa lebuh banyak sebagai penerima. Sedangkan pendekatan liberal adalah
pendekatan pembelajaran yang member kesempatan luas kepada siswa untuk
mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri.[5]
Jenis-jenis Pendekatan dalam
Pembelajaran
a.
Pendekatan
Individualistic
Pendekatan
individualistic dalam proses pembelajaran, adalah sebuah pendekatan yang
bertolak pada asumsi bahwa peserta didik memiliki latar belakang perbedaan dari
segi kecerdasan, bakat, kecenderungan, motivasi, dan sebagainya. Perbedaan
individualistis peserta didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa
strategi pembelajaran harus memerhatikan perbedaan peserta didik pada aspek
individual ini. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual
dalam strategi belajar mengajarnya. Bila hal ini tidak dilakukan, makastrategi
belajar tuntas (mastery learning) yang menuntut penguasaan penuh kepada
peserta didik tidak pernah menjadi kenyataan. Dengan pendekatan individual ini
kepada peserta didik dapat diharapkan memiliki tingkat penguasaan materi yang
optimal.
Pendekatan
belajar individualistis ini berguna untuk mengatasi peserta didik yang suka
benyak bicara atau membuat keributan dalam kelas. Caranya antara lain dengan
memindahkan salah satu peserta didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan
jarak yang cukuup jauh dengan peserta didik lainnya. Peserta didik yang suka
berbicara ditempatkan pada anak didik yang pendiam.[6]
Melalui
pendekatan ini, kesulitan peserta didik dalam belajar segera dapat dipecahkan.
Pendekatan individualistic juga adalah pendekatan uang demokratis, karena
memperlakukan setiap peserta didik sesuai dengan keinginannya. Dengan
pendekatan ini, penghargaan terhadap kecakapan peserta didik yang berbeda-beda
dapat dilakukan. Bagi peserta didik yang mau belajar sungguh-sungguh dan
cerdas, memiliki kesempatan dan peluang untuk belajar lebih cepat. Sebaliknya,
peserta didik yang kurang cerdas dan kurang sungguh-sungguh dapat menyelesaikan
pelajarannya sesuai dengan kesanggupannya.
Namun
demikian, pendekatan ini selain memiliki manfaat dan keuntungan, juga tidak
terlepas dari kekurangan. Pendekatan individualistis mengharuskan seorang guru
memberikan perlakuan yang berbeda-beda pada setiap peserta didik. Keadaan ini
amat menyulitkan, jika jumlah peserta didiknya cukup banyak, karena akan
memakan waktu yang cukup banyak pula, dan karenanya kurang efisien. Selain itu,
pendekatan ini juga mengharuskan adanya desain kelas yang kecil-kecil (small
class) yang jumlahnya cukup banyak. kelas kecil yang jumlahnya cukup banyak
ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu orang guru, melainkan oleh
sebuah team teacher. Pendekatan ini menyebabkan peserta didik
kurang memiliki kesempatan untuk bersosialisasi, dan pada gilirannya dapat
menimbulkan sikap individualistis pada peserta didik.
b.
Pendekatan
Kelompok
Pendekatan
kelompok adalah sebuah pendekatan yang didasarkan pada pandangan, bahwa pada
setiap peserta didik terdapat perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan
antara satu dan lainnya. perbedaan yang peserta didik yang satu dengan yang
lainnya ini, bukanlah untuk dipertentangkan atau dipisahkan, melainkan harus
diintegrasikan. Seorang peserta didik yang cerdas misalnya, dapat disatukan
dengan peserta didik yang kurang cerdas, sehingga peserta didik yang kurang
cerdas itu dapat ditolong oleh peserta didik yang cerdas. Demikian pula,
persamaan yang dimiliki antara peserta didik yang satu dengan peserta didik
yang lainnya dapat disinergikan sehingga dapat saling menunjang secara optimal.
Selain
itu, pendekatan kelompok ini juga didasarkan pada asumsi, bahwa setiap anak
didik memiliki kecenderungan untuk berteman dan berkelompok dalam rangka
memperoleh pengalaman hidup dan bersosialisasi dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Dengan pendekatan kelompok ini, diharapkan dapat ditumbuhkan rasa
sosial yang tinggi pada setiap peserta didik, dan sekaligus untuk mengendalikan
rasa egoism yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap
kesetiakawanan sosial di dalam kelas.
Dengan
pendekatan kelompok ini, mereka diharapkan memiliki kesadaran bahwa hidup ini
ternyata hidup ini saling membutuhkan dan saling tergantung antara satu dengan
yang lainnya. tidak ada makhluk hidup yang terus menerus dapat mencukupi
dirinya tanpa bantuan orang lain.
Sehubungan
dengan penggunaan pendekatan kelompok sebagaimana tersebut di atas, terdapat
sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan, seperti faktor tujuan, peralatan
dan sumber belajar, metode yang akan dipergunakan, lingkungan tempat belajar,
serta keadaan peserta didik itu sendiri. Dengan demikian, penggunaan pendekatan
kelompok ini tidak dapat dilakukan secara sembrono atau tanpa perhitungan yang
matang.[7]
c.
Pendekatan
Campuran
Pada
bagian terdahulu telah dikemukakan, bahwa seorang anak didik di samping
memiliki latar belakang perbedaan secara individual, juga memiliki persamaan
sebagai makhluk yang berkelompok. Dengan demikian, setiappeserta didik
sesungguhnya dapat didekati secara individual dan kelompok. Pada bagian
terdahulu juga sudah dikemukakan, bahwa pada pendekatan individual dan kelompok
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Keadaan
sebagaimana tersebut di atas, member petunjuk tentang kemungkinan dapat
dilakukan pendekatan yang ketiga, yaitu pendekatan campuran, yaitu sebuah
pendekatan yang bertumpu pada upaya menyinergikan keunggulan yang terdapat pada
pendekatan individual dan keunggulan yang terdapat pada pendekatan kelompok.
Namun dalam praktiknya, pendekatan campuran ini akan jauh lebih banyak
masalahnya dibandingkan dengan dua pendekatan sebagaimana tersebut di atas.
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan peserta didik yang bermasalah, maka
guru akan berhadapan dengan permaslahan peserta didikyang bervariasi. Setiap
masalah yang dihadapi peserta didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Uraian
tersebut di atas telah menjelaskan, bahwa setiap peserta didik memiliki
motivasi yang berbeda-beda dalam belajar.dari atu sisi terdapat peserta didik
yang memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, namun pada sisi lain terdapat
peserta didik yang motivsi belajarnya sedang-sedang saja, atau rendah. Keadaan
ini swlanjutnya menimbulkan keadaan peserta didik yang satu bergairah dalam
dalam belajar, sedangkan peserta didik yang lainnya biasa-biasa saja, bahkan
tidak bergairah sama sekali, dan tidak mau ikut belajar. Ia malah asyik
bersenda gurau, bermain-main, atau melakukan pekerjaan yang tidak ada
hubungannya dengan kegiatan belajar. Mereka duduk dan berbicara,
berbincang-bincang satu sama lain tentang hal-hal yang terlepas dari masalah
pelajaran.[8]
d.
Pendekatan
Edukatif
Apapun
yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik,
bukan karena motif-motif1ain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan
sebagainya.Anak didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan
di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya, tidak tepat
diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera.
Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah
melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni
teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan
kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa
merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar
bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap,
dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk
mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral,
noram sosial, dan norma agama.
Cukup
banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai
kebaikan kepada anak didik. Salah satu contohnya misalnya, ketika lonceng tanda
masuk kelas telah berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah
mereka bebaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk
mengatur barisan. Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya.
Demikian juga semua anak laki-laki, berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi,
barisan dibentuk menjadi dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi
pintu masuk guru berdiri sambi! mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di
depan pintu masuk kelas. Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka
pun satu per satu masuk kelas, mereka satu per satu menyalami guru dan mencium
tangan guru sebelum dilepas. Akhirnya, semua anak masuk dan pelajaran pun
dimulai.
Guru
yang hanya mengajar di kelas, belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian
anak didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang
mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik
disebabkan komunikasi antara guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis.
Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan
edukatif kepada anak didik yang bermasalah.
Guru
yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang
dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan tertutup atas apa yang
dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan,
karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang introver (tertutup).
Kasuistis
yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis
dan tingkat kesukarannya. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai
kasus yang terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan
individual,adajuga yang dapat didekati dengan pendekatan kelompok, dan ada pula
yang dapat didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang penting untuk
diingat adalah bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan
edukatif; pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif,
dan pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan
demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bemilai edukatif, dengan
tujuan untuk mendidik. Tindakan guru karena dendam, marah, kesal, benci, dan
sejenisnyabukanlah termasuk perbuatan mendidik, karena apa yang guru lakukan
itu menurutkan kata hati atau untuk memuaskan hati.
Selain
berbagai pendekatan yang disebutkan di depan, ada lagi pendekatan-pendekatan
lain. Berdasarakan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
Pendidikan Agama Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macampendekatan untuk
pendidikan agama Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan,
pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima
macam pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum
dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya
saling menunjang dan saling melengkapi.
C. Strategi Pembelajaran PAI
1.
Makna
Strategi
Istilah
strategi (strategy) berasal dari “kata benda” dan “kata kerja”
dalam bahasa Yunani. Sebagai kata benda, strategos merupakan gabungan
kata stratos(militer) dengan “ago” (memimpin). Sebagai
kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan).
Istilah strategi pertama
kali hanya di kenal dikalangan militer, khususnya strategi perang. Dalam sebuah
peperangan atau pertempuran, terdapat seseorang (komandan) yang mengatur
strategi untuk memenangkan peperangan. Semakin hebat strategi yang digunakan
(selain kekuatan pasukan perang), semakin besar kemungkinan untuk menang.
Biasanya, sebuah strategi disusun dengan mempertimbangkan medan perang,
kekuatan pasukan, pelengkapan perang dan sebagainya.
Menurut
Fattah dan Ali dalam Hadijaya, strategi merupakan suatu seni menggunakan
kecakapan dan sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya melalui
hubungannya yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling
menguntungkan. Jadi, strategi merupakan kerangka dasar tempat suatu organisasi
melanjutkan kehidupannya dengan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungannya.
Menurut
Hax dalam dalam Hadijaya, strategi merupakan pola atau rencana yang
mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan, dan tindakan yang
berurutan dari sebuah organisasi menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
Seiring
berjalannya waktu, istilah strategi di dunia militer tersebut
diadopsi ke dalam dunia pendidikan. Dalam konteks pendidikan, strategi
digunakan untuk mengatur siasat agar dapat mencapai tujuan dengan baik. Dengan
kata lain, strategi dalam konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai perencanaan
yang berisi serangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan
pendidikan. Strategi pendidikan mengarah kepada hal yang lebih spesifik, yakni
khusus pada pembelajaran. Konsekuensinya, strategi dalam konteks pendidikan
dimaknai secara berbeda dengan strategi dalam konteks pembelajaran.[9]
Strategi merupakan pola umum rentetan kegiatan yang
harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam pembelajaran perlu strategi agar
tujuan tercapai dengan optimal.[10] Strategi
pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya
digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
Dari beberapa definisi diatas dapat pemakalah
simpulkan bahwa strategi merupakan bagian dari kumpulan rencana yang
disatupadukan menjadi sebuah sistem yang dapat menghasilkan keuntungan maupun
kerugian bagi pembuat sistem.
2.
Makna
Pembelajaran
Secara
sederhana, istilah pembelajaran bermakna sebagai upaya membelajarkan seseorang
atau kelompok orang melalui berbagai upaya dan berbagai strategi, metode, dan
pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Beberapa ahli
mengemukakan tentang pengertian pembelajaran, diantarannya:
a.
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. (UU SPN No. 20 tahun 2003).
b.
Pembelajaran
adalah rangkaian peristiwa yang mempengaruhi pembelajaran sehingga proses
belajar dapat berlangsung dengan mudah.
c.
Pembelajaran
adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Mohammad Surya).
Pada
dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang mengkondisikan
seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Oleh sebab itu kegiatan pembelajaran ada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana
orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana
orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan
mengajar.
3.
Makna
Strategi Pembelajaran
Strategi
yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran.
Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan
kegiatan belajar. Tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan
efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan pesrta didik.
Strategi
pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang
berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujaun umum
pembelajaran. Berikut pendapat beberapa ahli berkaitan dengan pengertian
strategi pembelajaran.
a.
Kozma
dan Sanjaya (2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat
diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan
fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan
pembelajaran tertentu.
b.
Kemp
(1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran
yang dilakukan guru serta peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran
secara efektif dan efisien.
c.
Wina
Sanjaya (2006) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan
rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan
pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran.[11]
Secara umum strategi dalam pendidikan yaitu
pengetahuan atau seni mendayagunakan semua faktor atau kekuatan untuk
mengamankan sasaran kependidikan yang hendak dicapai melalui perencanaan dan
pengarahan dalam operasionaliasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan
yang ada, termasuk pula perhitungan tentang hambatan-hambatannya berupa fisik
maupun yang bersifat non fisik (seperti mental dan moral
baik dari subjek, objek maupun lingkungan sekitar).
Jadi, strategi pendidikan dapat diartikan sebagai kebijaksanaan dan metode umum
pelaksanaan proses pendidiakan.[12]
Dapat diketahui bahwa strategi pembelajaran adalah
suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam strategi
pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada
dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan
diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dari pengertian diatas dapat di
ambil garis besar bahwa strategi pembelajaran sebagai perencanaan yang berisi
rangkaian kegiatan termasuk penggunaan metode, materi, peserta didik, bahan
ajar maupun waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Sementara
dalam konteks agama Islam, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang
menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu rangkaian bahan
pembelajaran pendidikan agama Islam dan prosedur-prosedur yang akan digunakan
bersama-sama dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
D.
Jenis Strategi
Pembelajaran
Strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu sebagai berikut:
1.
Strategi
Pembelajaran Langsung
Strategi
pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya
paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk
didalamnya metode-metode ceramah, praktek dan latihan serta
demonstrasi. Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk
memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah.
2.
Strategi
Pembelajaran tidak langsung
Pembelajaran
tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang tinggi dalam
melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran yang berdasarkan
data. Dala pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari
penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal. Guru merancang
lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan
mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, dan sumber-sumber manusia.
3.
Strategi
Pembelajaran Interaktif
Strategi
pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi
diantara peserta didik. Seaman dan Fellenz mengemukakan bahwa diskusi dan
saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi
terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok,
serta mencoba mencari alternative dalam berpikir.
4.
Strategi
Pembelajaran melalui Pengalaman
Strategi
belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada
siswa, dan berorientasi pada aktivitas, penekanan dalam strategi belajar
melalui pengalaman adalah pada proses belajar dan bukan hasil belajar. Guru
dapat menggunakan strategi ini baik didalam kelas maupun diluar kelas.
5.
Strategi
Pembelajaran Mandiri
Belajar
mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun
inisiatif individu kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada
perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar
mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok
kecil. Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang
mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan kekurangnnya adalah peserta belum
dewasa, sulit menggunakan pembelajaran mandiri.[13]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Strategi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang
menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu rangkaian bahan
pembelajaran pendidikan agama Islam dan prosedur-prosedur yang akan digunakan
bersama-sama dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Pembelajaran
merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen
yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sebagai sebuah
sistem, pembelajaran memerlukan suatu strategi agar tujuan itu tercapai,
strategi memiliki komponen-komponen yang saling terkait sehingga antar sesama
komponen terjadi kerjasama, berikut adalah komponen-komponennya;
guru, peserta didik, tujuan, bahan pelajaran, kegiatan pembelajaran,
metode, alat, sumber belajar, evaluasi, dan situasi atau lingkungan.
komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya
pembelajaran, karena semuannya merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
strategi pembelajaran.
Strategi
pembelajaran secara umum terbagi jadi tiga pokok, yakni tahapan permulaan,
tahapan pengajaran, tahapan penilaian dan tahapan tindak lanjut. Tahapan
prainstruksional adalah tahapan yang ditempuh guru pada saat memulai proses
belajar mengajar. Tahapan instruksional adalah tahap pengajaran atau tahapan
yang memberikan bahan pelajaran yang telah disusun guru
selanjutnya. Tahapan evaluasi dan tindak lanjut adalah tahapan yang
bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan kedua. Ketiga
tahapan ini harus ditempuh pada setiap melaksakan pengajaran, jika satu
tahapan tersebut ditinggalkan, maka sebenarnya tidak dapat dikatakan telah
terjadi proses pembelajaran.
B. Saran
Dari
beberapa Uraian diatas jelas banyak kesalahan serta kekeliruan, baik disengaja
maupun tidak. Oleh karna itu, kami harapkan kritik dan sarannya untuk
memperbaiki segala keterbatasan yang kami punya, sebab manusia adalah tempatnya
salah dan lupa.
DAFTAR PUSTAKA
Asril, Zainal.
2011. Micro Teaching, Jakarta: Rajawali Pers.
Majid, Abdul. 2013. Strategi
Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran
Pendidikan Karakter. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif
Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Agus, Suprijono.
2009. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Jihad, Asep dan Abdul
Haris. 2010. Evaluasi Pembelajaran.
Yogyakarta: Multi Pressindo.
Nata, Abuddin, 2009. Perspektif
Islam tentang strategi pembelajaran, Jakarta : Prenada Media Group.
Sobroto, Seno. 2006. Seri Bahasa Indonesia,
Semarang: Aneka Ilmu, 2006.
;
[2] Asep Jihad, dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. (Yogyakarta:
Multi Pressindo, 2010), hlm. 25.
[3] Trianto. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik,
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 1.
[4] Suprijono Agus. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi
PAIKEM. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), hlm. 46.
[6] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi
Pembelajaran, (Jakarta:
Kencana, 2009), hlm. 153
[9]
Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2013), hlm. 13.
[12] Seno Sobroto, Seri
Bahasa Indonesia, (Semarang: Aneka Ilmu, 2006), hal. 340.

Makalahnya ajibbbbbbb👍👍👍👍👍
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus